Welcome
Pemerintah Kembali Terbitkan

Pemerintah Kembali Terbitkan Surat Utang Danai Penanganan Covid-19

Di hari ini Pemerintah sudah lakukan penerbitan empat seri Surat Hutang Negara (SUN) dengan Privat Placement ke Bank Indonesia, dengan jumlah keseluruhan nominal penerbitan sejumlah Rp 84,4 triliun. Penerbitan SUN ini hari adalah transaksi yang ke-3 untuk pemenuhan beberapa pembiayaan Public Goods.

 

Keseluruhan keperluan pembiayaan Public Goods ialah sejumlah Rp 397,56 triliun. Dimana pembiayaan itu mencakup pembiayaan untuk berbelanja kesehatan, perlindungan sosial, dan pembiayaan bagianal Kementerian/Instansi serta Pemda dalam rencana perlakuan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) serta Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Mengenai tipe SUN yang diedarkan yaitu Variable Rate (VR) sekitar empat seri, salah satunya VR0042, VR0043, VR0044, serta VR0045. Tanggal jatuh termin dari ke-4 seri ini dengan cara urut dari mulai 28 September 2025, 28 September 2026, 28 September 2027, serta 28 September 2028.

Keseluruhan nominal dari semasing seri sejumlah Rp 21,1 triliun, dengan coupon tiga bulan pertama semasing seri sebesar 3,84002 %.

Setelah itu, penerbitan SUN serta/atau SBSN bagus untuk Public Goods atau Non-Public Goods dalam rencana pengendalian COVID-19 serta PEN akan dilaksanakan dengan cara setahap sesuai sasaran yang sudah diputuskan.

Untuk info, transaksi ini dilaksanakan berdasar Ketetapan Bersama-sama Menteri Keuangan serta Gubernur Bank Indonesia nomor 347/KMK.08/2020 serta 22/9/KEP.GBI/2020 tanggal 20 Juli 2020 mengenai Pola serta Proses Pengaturan Pembelian SUN serta/atau Surat Bernilai Syariah Negara (SBSN) oleh Bank Indonesia di Pasar Pertama serta Pembagian Beban Ongkos dalam rencana Pembiayaan Perlakuan Efek Epidemi COVID-19 serta PEN, dan sesuai wewenang yang diberi oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 mengenai SUN serta Ketentuan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK.08/2019 mengenai Pemasaran SUN Dengan Langkah Privat Placement.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara optimistis realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dapat capai 100 % di akhir tahun ini dari keseluruhan pagu budget Rp695,2 triliun. Mengingat pembiayaan beberapa program yang ada dilaksanakan dengan cara periodik.

“Apa kemungkinan sampai desember kelak (PEN) realisasi 100 %? Jawabannya memungkinkan. Mengapa? Karena beberapa program itu dibayarkan dengan cara bulanan,” jelas ia dalam webinar bertopik ‘Dualisme Peranan UMKM di Tengah Kritis Ekonomi Nasional’, Sabtu (19/9).

Menurut Suahasil skema pembiayaan program PEN dengan cara periodik menyengaja direncanakan demikian rupa oleh Pemerintah. Maksudnya membuat perlindungan daya membeli warga semasa epidemi Corona berjalan.

“Jadi, memang jika buat budget PEN itu tidak berati jika satu bulan pertama dikerjakan pendistribusian semua digulirkan. Ada yang seperti PKH atau program Kartu Sembako dibayarkan setiap bulan. Agar barisan warga penerima pertolongan itu memang punyai penghasilan atau daya membeli terus s/d akhir tahun,” tuturnya.

Selanjutnya, pembiayaan program Pemulihan Ekonomi Nasional ada juga yang dilaksanakan dengan cara siklus. Contohnya program Kartu Prakerja, yang pembiayaan diwujudkan per batch.

“Ada pula (pembiayaan) yang masuk siklus tiap bulannya, seperti Kartu Prakerja yang dilaksanakan dengan cara per batch,” tutur ia.

Oleh karenanya, ia optimistis realisasi budget PEN tetap akan bertambah tiap bulannya. Bersamaan terpukulnya pekerjaan ekonomi karena efek kritis epidemi Corona.

“Sebab kan seperti narasi kita diawalnya barusan, krisisnya adala kritis kesehatan tetapi berefek ke perekonomian. Akseptasi turun, revenue turun, serta pekerjaan ekonomi turun. Karenanya warga kekurangan penghasilan. jika kekurangan penghasilan karena itu diberi dukungan suplemen penghasilan dengan cara bulanan. Jadi dari realisasi 36 % bertambah sekarang ini, dapat Desember kelak membuat 100 % (realisasi) tambah ia.